Langsung ke konten utama

Penyebaran Islam di Indonesia

 “Penyebaran Islam di Indonesia”

Ahad, 18 Oktober 2020

Dalam sejarah proses penyebaran Islam di Indonesia, terdapat empat macam teori. Masing-masing memiliki rentang waktu yang berbeda-beda, diantaranya yaitu:

Teori Gujarat

Teori ini menjelaskan bahwa Islam dibawa oleh orang-orang Gujarat (India) yang berlayar ke Indonesia. Sebelumnya, orang-orang Gujarat sendiri sudah memiliki hubungan dengan Indonesia. Teori ini juga mengatakan bahwa hal ini terjadi pada abad ke-13 masehi melalui jalur perdagangan.

Teori Mekah

Teori ini dikemukakan oleh Buya Hamka, yang menjelaskan bahwa Islam dibawa oleh musafir Arab. Hal ini terjadi pada saat sekitar abad ke-7 masehi.

Teori Persia

Teori ini dikemukakan oleh P.A Hoesein Djajadiningrat yang tentunya menjelaskan bahwa Islam dibawa oleh pedagang-pedagang dari Persia, dikarenakan banyaknya persamaan budaya Islam dan budaya Persia. Teori ini tercetus pada abad ke-13 masehi.

Teori Muslim Cina

Teori ini menjelaskan bahwa pedagang muslim dari Cina datang dan menetap di Palembang, Indonesia pada abad ke-9. Kemudian para pedagan Cina ini melakukan pernikahan dengan warga setempat.


Adapula beberapa faktor penyebaran agama Islam di Indonesia, antara lain:

Perdagangan

Seperti yang dijelaskan dalam teori-teori, perdagangan sering dijadikan alat penyebaran agama Islam. Mereka bukan hanya sekedar berdagang untuk mencari uang, namun sekaligus berdakwah demi menyebarkan agama Islam. 

Pernikahan

Kala itu, banyak orang yang ingin menikahkan putri-putrinya dengan para pedagang (yang memiliki derajat tinggi di masyarakat). Karena banyaknya pedagang yang beragama Islam (dari penyebaran Islam melalui jalur perdagangan), maka putri-putri mereka haruslah berislam dulu. Maka dari itu, akan hadir keturunan muslim. 


Politik

Penyebaran dakwah Islam di kerajaan-kerajaan (pemerintahan), menjadikan raja-raja mengucapkan syahadat. Tentunya setelah pemimpinnya berislam, maka rakyatnya akan mengikuti rajanya. Hal ini menjadikan Islam menyebar di masyarakat.

Kesenian atau Budaya

Karena banyak sarana kebudayaan yang menyesatkan di sekitar masyarakat, maka Wali Songo menggunakan beberapa media untuk mengenalkan mereka pada Islam, yang tentunya tidak menyesatkan dan sesuai syariat. Beberapa diantaranya adalah pertunjukkan wayang dan kesenian tradisional.

Pendidikan

Pembangunan beberapa pondok pesantren oleh beberapa sultan saat itu yang sampai sekarang Indonesia tidak terlepas dari itu. Masyarakat mengenyam pendidikan di pesantren dan diajarkan dalam mendakwahkan Islam.

Islam mudah diterima

Alasan Islam mudah diterima oleh masyarakat dikarenakan penyebaran Islam sendiri dilakukan secara damai dan tanpa paksaan. Cara masuknya pun mudah, hanya dengan mengucapkan syahadat. Islam juga tidak mengenal kasta, semua dipandang sama sehingga rakyat biasa banyak yang ingin masuk Islam.


Sebagai contoh dari penyebaran Islam di Indonesia adalah penyebarannya di Cirebon, sebelum Sunan Gunung Jati lahir. Tahun 1420 M, terdapat beberapa pedagang dari Baghdad yang dipimpin oleh Syekh Adlofi Mahdi. Beliau dan para pedagang memohon agar menetap di Muara Jati serta ingin memperlancar perdagangannya. Kemudian, Syekh Idlofi diperbolehkan untuk menetap dan berdakwah di daerah Gunung Jati.

Syekh kemudian mendirikan Pangguron Gunung Jati untuk memudahkan dalam menyakup seluruh kasta. Setelah itu, hadirlah keluarga Kerajaan Pajajaran untuk menyatakan diri sebagai seorang yang Islam. Setelah beberapa tahun di Pangguron Gunung Jati, Raden Walangsungsang –salah satu keluarga keluarga Kerajaan Pajajaran yang masuk Islam– dan adik beserta istrinya diperintahkan gurunya Syekh Dzatul Kahfi untuk membuat pedukuhan yang diberi nama Tegal Alang-Alang dan Raden Walangsungsang sebagai kepala dukuh bergelar Ki Kuwu dan dijuluki Pangeran Cakrabuana.

Dukuh tersebut berkembang pesat dan karena interaksi antar bangsa yang berlainan ras dan berbeda kepercayaan, maka, pedukuhan ini dinamai Caruban. Namun, setelahnya Raden Walangsungsang diperintahkan untuk ke Mekah untuk haji oleh gurunya bersama adiknya –Ratu Rarasantang, sehingga ia mengalihkan jabatannya kepada Ki gedeng Alang-Alang alias Ki Danusela.

Di Mekah, mereka tinggal di rumah Syekh Bayanullah sembari menambah ilmu agama. Setelahnya, Ratu Rarasantang dilamar oleh seorang pembesar kota Isma’illiyah bernama Syarif Abdillah bin Nurul Alim. Agar lebih diterima lingkungan, maka nama Ratu Rarasantang diubah menjadi Syarifah Muda’im. Lalu, mereka dikaruniai dua anak bernama Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Setelah ibadah haji, Raden Walangsungsang kembali ke Caruban tanpa sang adik. Karena kagum atas kemajuan, pedukuhan Caruban di tingkatkan menjadi sebuah negeri dengan nama Caruban Larang, sekaligus pemerintahannya. Berita ini meyebar dengan cepat hingga ke Kerajaan Pajajaran. Karena yang mendirikan adalah anaknya sendiri maka Prabu Siliwangi merestui berdirinya negeri ini. 

Di Isma’illiyah, Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah di perintah ayahnya, Syarif Abdillah sejak kecil untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari siapa saja ulama yang mereka gurui. Saat berusia 27 tahun Syarif Abdillah meninggal dunia , maka sebagai anak tertua Ia ditunjuk untuk menggantikannya memerintah Kota Isma’illiyah. Tetapi Ia menolak dan memilih untuk melaksanakan harapan ibunya menjadi mubaligh di Caruban, maka Ia melimpahkan jabatan tersebut  kepada Syarif Nurullah, adiknya.

Setelah sesampainya di Caruban, Syarifah Muda’im memohon untuk tinggal di Kampung Pasambangan bersama puteranya. Oleh Pangeran Cakrabuana, keduanya diperkenankan tinggal di Pertamanan Gunung Sembung sambil mengajarkan agama Islam sebagai penerus Pangguron Gunung Jati. Syarif Hidayatullah dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana dengan putrinya, Nyi Ratu Pakungwati. Pada tahun 1479, Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaanya atas negeri Caruban Larang kepada menantunya, Syarif Hidayatullah. Di tahun pertama beliau berkunjung ke Pajajaran untuk memperkenalkan diri dan sungkem kepada Prabu Siliwangi serta mengajaknya masuk Islam, tetapi tidak disambut dengan baik ajakan tersebut. Kemudian Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalanan dakwahnya ke daerah Serang yang rakyatnya sering mendengar tentang ajaran islam oleh para pedagang, disana dia disambut dengan baik oleh Bupati Banten, hingga putrinya yang bernama Nyi Ratu Kawungaten dinikahkan dengan Syarif Hidayatullah. Dari puteri adipati Banten ini, Ia dikaruniai dua orang putera yang bernama Nyi Ratu Winaon dan Pangeran Sabakingking.

Setelah mendengar bahwa di wilayah Pajajaran Islam berkembang dengan pesat, Raden Patah bersama-sama mubaligh dan para sunan menetapkan Syarif Hidayatullah sebagai  Panata Gama Rasul di tanah Pasundan, yang berarti pemimpin penyiaran agama Rasulullah di jawa bagian barat. Beliau ditetapkan juga sebagai Sunan Cirebon dengan gelar Sunan Gunung Jati. 

Raden Patah menyarankan pada Sunan Gunung Jati agar Caruban dijadikan kesultanan yang tidak lagi menghaturkan upeti kepada Pajajaran. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat penyebaran Islam di kadipaten-kadipaten. Setelah kembali dari Demak, Sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah sebagai sultan pertama. Setelah mendengar berita tentang Syarif Hidayatullah yang saat itu sebagai Sultan Cirebon, Ki Dampu Awang yang merupakan Kaisar Tiongkok menikahkan anaknya yang bernama Ong Tien dengan Sunan Gunung Jati. Kemudian nama Ong Tien diganti dengan nama Nyi Rara Sumanding. Sehingga meninggalkan hiasan dinding dari porselin buatan Tiongkok yang jadi peninggalan Kerajaan Cirebon.

Bersama Fatahillah yang sebagai Bupati Jayakarta, Sunan Gunung Jati memperluas wilayahnya. Pada saat yang telah direncanakan mengambil isteri seorang puteri dari mantan pembesar Kerajaan Majapahit, bernama Nyi Ageng Tepasari yang dikaruniai dua orang putera bernama Ratu Wulung Ayu dan Pangeran Muhammad Arifin yang kelak menggantikan ayahnya dengan gelar Pangeran Pasarean. Syarif Hidayatullah memperluas wilayah kekuasaannya bersama Fatahillah dan berhasil menaklukan Daerah Telaga dan Raja Galuh. Karena berjasanya Fatahillah kepada Cirebon maka Syarif Hidayatullah menikahkan Ratu Wulung Ayu anaknya dengan Fatahillah

Karena usia Syarif Hidayatullah yang makin tua, beliau mengangkat Muhammad Arifin sebagai Sultan Cirebon ke II. Untuk sultan yang masih muda, maka Syarif Hidayatullah mengangakat Fatahillah sebagai penasihat dengan gelar Ki Bagus Pasai. Sunan Gunung Jati kembali ke Gunung Sembung untuk menjadi guru agama di Pangguron Pasambangan.

Pada tahun 1568 Cirebon mengalami kesedihan karena wafatnya Syarif Hidayatullah yang genap berusia 120 bersama ibu Syarifah Muda’im dan Pangeran Cakrabuana beliau dikembumikan di pertamanan Gunung Sembung. Dua tahun kemudian menyusul pula Kyai Bagus Pasai yang dimakamkan di tenpat yang sama.

Komentar